Senin, 14 Desember 2015

#Pilkada2015 : Walikota Cantik dan Komunikatif Disukai Publik

Pilkada serentak tahap pertama pada 9 Desember 2015 lalu dinilai menghadirkan fenomena baru yang menarik.

Walikota Cantik dan Komunikatif Disukai Publik

Banyak figure calon kepala daerah perempuan ternyata mampu menuai suara signifikan mengungguli lawan-lawannya dalam perolehan suara berdasarkan hitung cepat (quick count). Dari 123 figur perempuan yang menjadi calon kepala/ wakil kepala daerah dalam 264 pilkada yang telah berlangsung pertengahan pekan lalu, setidaknya ada 35 calon kepala/ wakil kepala daerah perempuan yang dinyatakan unggul.

Dari jumlah itu, mayoritas adalah figur yang punya paras cantik dan komunikasinya bagus dengan masyarakat. ”Cantik memang bukan satusatunya faktor yang memudahkan figur disukai publik sebagai pemilih. Tapi juga faktor komunikasi serta bagaimana mengemasnya sebagai sosok yang kapabel,” kata Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari kepada KORAN SINDO kemarin.

Seperti diketahui, dari 35 calon kepala/wakil kepala daerah perempuan yang dinyatakan unggul dalam hitung cepat, mereka merupakan figurfigur cantik. Di antaranya Airin Rachmi Diany di Tangerang Selatan, Indah Putri Indriani di Luwu Utara, Anna Sophana di Indramayu, Cellica Nurrachadiana di Karawang, Vonnie Anneke Panambunan di Minahasa Utara, Christiany E Paruntu di Minahasa Selatan, dan Faida di Jember.

Kemudian juga ada Rita Widyasari di Kutai Kartanegara (Kalimantan Timur), Asmin Laura Hafid di Nunukan, Irna di Pandeglang, Mirna Annisa di Kendal, dan Neni Moerniaeni di Kota Bontang. Lebih jauh, Qodari yang juga praktisi survei dan konsultan politik mengakui bahwa sosok cantik memang lebih mudah dari segi popularitas dan elektabilitas.

Meski demikian, seiring dengan informasi publik saat ini, tentu kecantikan saja juga tidak cukup. Bagi figur cantik yang sudah punya track record tentunya lebih mudah untuk meningkatkan elektabilitas dan akseptabilitasnya. Terlebih jika didukung dengan komunikasi politik yang bagus dengan masyarakat. ”Seperti Airin misalnya, selain cantik juga komunikasinya dengan masyarakat cukup bagus sehingga terpilih lagi meski lawannya juga tergolong cantik-cantik,” ujarnya.

Namun tak semua wanita cantik yang ikut pilkada menang. Bukti bahwa soal tampang tidak cukup, lanjut Qodari, bisa dilihat dalam Pilkada Sulawesi Utara. Maya Rumantir yang punya background aktris dan cantik bisa dikalahkan politikus senior PDIP Olly Dondokambey. Juga figur cantik calon bupati OKU, Percha Leanpuri, yang kalah dari pasangan Kuryana Azis-Johan Anuar.

Hal senada diungkapkan peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI)-Denny JA, Ardian Sopa. Dia mengatakan, calon kepala daerah yang berlatar belakang artis atau punya kecantikan dan ketampanan cenderung banyak dipilih karena unsur popularitas dan memiliki pemilih loyal. ”Terlebih jika artis ini enak dilihat, kemudian ganteng atau perempuan cantik dan sebagainya. Mereka sudah punya modal awal popularitas,” katanya.

Dia mengakui bahwa popularitas bukan satu-satunya faktor penentu kemenangan bagi calon dengan figur cantik ataupun tampan. Mereka juga perlu dibekali dengan persepsi bahwa calon tersebut mampu membawa perubahan, mampu membangun, dan mampu menjalankan roda pemerintahan.

”Seperti Airin misalnya, kan punya pengalaman memimpin. Juga Zumi Zola, track record - nya menjadi bupati di Tanjung Jabung Timur. Kemudian Pasha Ungu (Sigit Purnomo) juga karena mendampingi Hidayat yang seorang birokrat berpengalaman,” katanya.

Menurut Ardian, mereka para calon dengan tampang menarik yang unggul dalam hitung cepat juga dipilih bukan berdasarkan tampangnya saja, melainkan juga karena faktor track record -nya. Sementara itu Helmy Yahya yang mencalonkan diri sebagai bupati Ogan Ilir, Sumatera Selatan, kalah dalam hitung cepat karena masyarakat bisa jadi melihat dia sudah bukan personifikasi artis, melainkan politikus.

Apalagi, menurut dia, sebelumnya Helmy juga pernah maju pada Pilkada Provinsi Sumatera Selatan. Adapun juru bicara Partai Demokrat Ruhut Sitompul mengatakan, tidak bisa dimungkiri bahwa kecantikan figur memang salah satu faktor yang dapat meningkatkan elektabilitas. Meski begitu, mereka para figur cantik itu juga merupakan orangorang cerdas yang dari segi kualitas memang kapabel.

”Pertimbangan partai dalam mengusung tetap yang dikedepankan adalah kualitas dan kapabilitas. Bahwa misalkan figur itu cantik atau tampan, ya itu bonus saja yang menambahkan akseptabilitas dan elektabilitas,” kata Ruhut.

Bukti bahwa partainya tak sekadar mencalonkan figur cantik, kata Ruhut, mereka sudah terbukti bisa memimpin dan mendapatkan apresiasi rakyat yang dipimpinnya. Karena kalau hanya bermodal cantik, tentu rakyat juga tidak akan memberikan dukungan. ”Sebab ini soal kepemimpinan. Rakyat juga pasti kan tahu mana yang dianggap mampu dan mana yang dianggap tidak mampu,” tuturnya.

Ketua DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hendrawan Supratikno mengatakan, dalam politik sering kali faktor surplus memang bisa menjadi penentu keterpilihan. Kecantikan atau ketampanan, kata dia, adalah surplus dari sisi fisik karena dengan modal itu menjadi enak dilihat dan mudah populer.

Surplus lain bisa dari sisi modal logistik yang dengan modalnya itu bisa menjalankan berbagai strategi politik. Kemudian bagi calon petahana, trackrecord-nya selama memimpin juga merupakan surplus karena menjadi modal sosial yang sangat memengaruhi elektabilitasnya.

”Nah, kalau dia itu petahana, berhasil, dan cantik, tentu itu surplus politik yang bagus sehingga partai pasti akan mengusungnya,” ungkap dia.
Share This

Contact Us

So you think we’re the right folks for the job? Please get in touch with us, we promise we won't bite!



Designed By Seo Blogger Templates Published.. Blogger Templates