Senin, 26 Oktober 2015

Sudah 13 Balita Meninggal "Kotabaru dan Tabalong Tak Lapor"

Sudah 13 Balita Meninggal "Kotabaru dan Tabalong Tak Lapor"


BANJARMASIN – Pekatnya kabut asap di Kalimantan Selatan kembali menelan korban. Ironis jika korban dampak kabut asap ini adalah bayi, balita, dan anak-anak. Tercatat, hingga minggu ketiga Oktober 2015 ini sudah ada 13 balita yang meninggal.

Temuan kematian balita karena pneumonia ini didapatkan dari data rekap laporan program pengendalian infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan.

Korban balita paling banyak ada di Tanah Bumbu mencapai 11 orang. Detailnya bayi berusia kurang dari satu tahun delapan orang, dan balita berusia satu hingga empat tahun tiga orang. Jika berdasarkan jenis kelamin, empat orang laki-laki dan tujuh perempuan.

Selain di Tanah Bumbu, penyumbang angka kematian balita karena pneumonia adalah Kabupaten Tanah Laut. Ada satu balita laki-laki yang berusia kurang dari satu tahun meninggal karena pneumonia. Kemudian ditambah satu balita perempuan dari Hulu Sungai Selatan.

Data ISPA Tabalong sendiri yang sebelumnya diinformasikan hingga menelan korban balita tidak terekam. Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel sendiri sudah beberapa kali menyurati Pemkab Tabalong, karena tidak mengirimkan data ISPA sejak Mei 2015 lalu.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan, Benny Rahmadi mengaku kaget ketika mendengar ada balita yang meninggal karena ISPA di Tabalong, September lalu. Pasalnya, Dinkes Kalsel sendiri tak pernah lagi mendapatkan informasi mengenai data ISPA Tabalong sejak Mei lalu.

“Tabalong tidak ada datanya. Kita juga sudah surati ke Kabupaten Tabalong karena tidak melaporkan dari bulan Mei sampai sekarang,” ujarnya.

Temuan ISPA di September kemarin sendiri mengalami penurunan dibandingkan Agustus tadi. Pada Agustus tadi tercatat 31.590 penderita penyakit ISPA. Namun data ini belum sepenuhnya terekap, karena Kabupaten Kota Baru dan Tabalong masih belum mengirimkan data ISPA ke Dinkes Kalsel. Sementara di bulan September kemarin tercatat 29.104 penderita ISPA terekam.

Kemudian di bulan Oktober sendiri baru Barito Kuala, Banjarbaru, dan Tanah Bumbu yang lebih dulu mengirimkan data ISPA ke Dinkes Provinsi Kalsel. Sampai saat ini sudah tercatat 2.238 penderita ISPA ditemukan di bulan Oktober. Banyaknya balita yang meninggal sendiri, ungkap Benny, sebenarnya bukan karena hanya penyakit ISPA saja. Namun, juga karena ada penyakit lainnya seperti diare dan lainnya.

“Saat kami konfirmasi ke kabupaten/kota dan dokter yang menanganinya, kematian balita itu bukan karena ISPA saja, tapi sudah ada bawaan penyakit lainnya. Tidak pernah kami mendengar, misalnya balita di Kalsel karena sesak napas kemudian meninggal,” ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, kabut asap memang menjadi salah satu faktor meningkatnya jumlah penderita ISPA di Kalimantan Selatan. Namun selain itu, ada faktor-faktor lainnya yang bisa meningkatkan risiko terjangkitnya pneumonia tersebut, seperti usia di bawah dua bulan dengan jenis kelamin laki-laki, gizi kurang, berat badan lahir rendah, tidak mendapatkan ASI memadai, polusi udara, kepadatan tempat tinggal, imunisasi yang tidak memadai, membedong bayi, dan defisiensi vitamin A.

Bahkan karena ISPA ini, penderita bisa berujung kematian jika tidak ditanggulangi sejak dini. Faktor yang meningkatkan risiko kematian itu yakni usia di bawah dua bulan, tingkat sosial ekonomi rendah, gizi kurang, berat badan lahir rendah, tingkat pendidikan ibu rendah, tingkat pelayanan (jangkauan) pelayanan kesehatan rendah, kepadatan tempat tinggal, imunisasi yang tidak memadai, dan menderita penyakit kronis.

Benny mengungkapkan, ada sejumlah upaya untuk penanggulangan penyakit ISPA atau pneumonia ini. Seperti mengetahui atau mewaspadai pneumonia, influenza, gejala, dan cara penularan serta pencegahannya. Kemudian, melaksanakan perilaku hidup bersih yang dapat mencegah pneumonia dan influenza.

“Partisipasi masyarakat di lingkungan sekitar juga sangat membantu. Laporkan bila ada kecurigaan terhadap kasus pneumonia dan klaster kepada RT atau RW setempat. Kita ingin masyarakat membantu penyebaran informasi ini,” tandasnya.

Selain itu, segera bertindak untuk mencari pertolongan bila menemukan penderita pneumonia berat ke sarana pelayanan kesehatan terdekat, seperti puskesmas atau rumah sakit.

“Kemudian untuk menghadapi musim kemarau ini, terutama kabut asap, dianjurkan untuk memakai masker agar supaya terhindari pengaruh asap yang menganggu pernapasan,” ujarnya. (mat/KPNN)
--http://balikpapan.prokal.co--
Share This

Contact Us

So you think we’re the right folks for the job? Please get in touch with us, we promise we won't bite!



Designed By Seo Blogger Templates Published.. Blogger Templates