Senin, 26 Oktober 2015

Ratusan Pelajar Terlibat Prostitusi, Cari Pelanggan Lewat Facebook

Ratusan Pelajar Terlibat Prostitusi, Cari Pelanggan Lewat Facebook

PANGKALPINANG, BANGKA POS - Ratusan pelajar SMP, SMA, dan mahasiswi di Bangka Belitung terlibat prostitusi. Hal ini terungkap dalam curhat mereka di Lembaga Perlindungan dan Pemberdayaan Hak-Hak Perempuan (P2HP) Babel di Pangkalpinang.

Ketua P2HP Babel, Zubaidah mengatakan Babel termasuk kategori lampu kuning untuk prostitusi pelajar SMP, SMA, dan mahasiswi. Selain data di kepolisian, dia menyebut masih banyak kasus prostitusi pelajar yang tidak terungkap.

"Kita belum lampu merah, tetapi sudah lampu kuning prostitusi pelajar. Ini harus jadi perhatian serius semua pihak terlebih para orang tua," kata Zubaidah belum lama ini.

Menurut Zubaidah, ratusan pelajar memilih curhat kepada mereka dibanding orangtua atau pihak sekolah. Mereka beralasan takut dikeluarkan sekolah atau terbuka kepada orangtuanya.

"Kami terima ratusan pelajar yang curhat, terlibat persoalan prostusi. Umumnya karena faktor ekonomi dan pola hidup mewah. Lokasi transaksinya beraneka, kontrakan, penginapan-penginapan murah, kos-kosan, tempat sepi, pantai-pantai yang sepi," ujarnya.

"Kita coba memberikan pendampingan dan pembinaan, berkomunikasi dengan orangtuanya secara diam-diam, untuk mengarahkan, mencegah agar mereka tidak terlibat terlalu jauh, merusak aktivitas belajarnya dan merusak masa depan," tambah Zubaidah.



Penelusuran Bangka Pos, prostitusi pelajar tidak hanya melibatkan mucikari seperti yang terungkap dalam beberapa kasus belakangan ini. Ada pelajar yang sudah proaktif untuk mencari pelanggan melalui jejaring sosial, Facebook.

Setidaknya demikian diakui sumber Bangka Pos pada pekan lalu. Pria yang tidak mau disebutkan namanya itu mengaku berkenalan dengan seorang pelajar SMA melalui Facebook. Menurut pengakuan pelajar itu kepadanya, dia sengaja mengirim permintaan pertemanan secara acak untuk mendapatkan pria hidung belang.

"Saya mendapat permintaan pertemanan. Lalu kirim pesan, minta nomor telepon dan PIN BB. Saya mulai curiga. Selang dua hari, basa basi ajak ketemu dan makan, lalu ajak karaoke. Anaknya ternyata masih pelajar SMA. Kadang minta dibeliin baju, handphone terbaru, minta mau rebonding rambut, beli tas. Sekarang mereka yang agresif," katanya, Jumat (23/10).

BACA: Khusus 17+ : Terkena Jurus Ini, Dijamin Wanita Menggelepar Diatas Ranjang

Lebih lanjut sang narasumber mengisahkan, dirinya beberapa kali mengajak ketemu siang hari, tetapi pelajar itu, sebut saja Melli, mengisahkan bahwa dirinya siang hari masih sekolah.

"Kalau siang, katanya masih sekolah. Sebab sekarang kalau sering mereka bolos, sering absen pasti dicurigai dan diminta menghadap guru konseling, makanya hanya bisa bebas sore atau malam hari," ungkap sang narasumber.

Lebih lanjut narasumber mengisahkan, pada saat karoke, Melli biasanya membawa kawan-kawan dan langsung diperkenalkan dan memberi nomor HP dan PIN BB saat di tempat karaoke.



"Sesekali karaoke hanya berdua, tetapi kadang dibawa juga dengan kawan-kawannya, sehingga dapat kenalan dan langganan baru," ujarnya.

Terkendala malu
Lebih lanjut, Zubaidah mengatakan pemberantasan prostitusi pelajar terkendala rasa malu dari para pelaku. Kebanyakan dari mereka jarang mau buka mulut karena ingin menyelamatkan harga diri keluarganya.

"Anak-anak PSK (pekerja seks komersial) pelajar yang masih di bawah umur merasa malu. Mereka tidak berani dan takut menjadi saksi untuk mengetahui lebih jauh siapa-siapa saja pihak-pihak yang terlibat. Sehingga, masalah ini sulit dicarikan penyelesaiannya secara hukum," ujar Zubaidah.

Zubaidah menjelaskan ketika PSK-PSK pelajar itu dikumpulkan untuk dibina, mereka justru menyatakan malu menjadi saksi. Mereka takut ketahuan orangtua dan dikeluarin pihak sekolah.

"Jumlahnya lumayan banyak. Bahkan meski masih anak-anak, perilakunya nekat melayani tamu di berbagai daerah. Terutama kalau PSK mahasiswi, mereka bisa ketemuan di Palembang atau Jakarta. Sedangkan PSK pelajar SMP dan SMA terbatas kesempatannya keluar daerah," kata Zubaidah.

Zubaidah mengimbau kepada orangtua agar diproteksi sejak dini cara anak-anak bergaul dan harus mencurigai anak-anak yang mempunyai barang-barang mewah, sebab modus yang sering dilakukan para mucikari adalah menawarkan hidup mewah dan memberikan banyak uang. (n4/j2)

Menurun Drastis


TAHUN ini Polres Pangkalpinang mencatat penurunan jumlah kasus yang melibatkan anak- anak. Ada tiga kategori kasus yang mengalami penurunan. Kategori itu antara lain persetubuhan anak di bawah umur, pencabulan, dan sodomi.

Kapolres Pangkalpinang, AKBP Heru Budi Prasetyo mengatakan kebanyakan kasus persetubuhan anak di bawah umur selalu ada dalih suka sama suka. Status pacaran juga mewarnai kasus yang umumnya dilaporkan keluarga perempuan.

"Kasus ini terkuak biasa karena keluarga si perempuan tidak terima dan melaporkan kejadian itu," kata Heru didampingi Kanit PPA Bripka Windu, Minggu (25/10).

Menurut Heru, praktik persetubuhan anak di bawah umur pada umumnya terjadi di tempat-tempat tongkrongan yang sepi dan jauh dari jangkauan masyarakat. Seperti bukit cinta, pantai, dan rumah kontrakan. Karenanya, polisi berusaha meminimalisir peristiwa itu lewat patroli dan sosialisasi.

"Kita bekerjasama dengan TP2A Pangkalpinang gencar melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah. Selain sekolah penyuluhan dilakukan di kantor Kecamatan dengan melibatkan para orangtua," ujarnya.

Terpisah, Kapolres Basel, AKBP Satria Rizkiano menjelaskan bahwa selama ini pihak kepolisian melakukan patroli rutin di malam hari sebagai bentuk penekanan dan pencegahan terhadap hal serupa maupun kenakalan remaja.

"Kita sangat tidak mendukung, apalagi tindakan asusila di bawah umur, kekerasan dalam keluarga terhadap anak hingga kenakalan remaja, jika perlu di proses maka akan kita proses," ungkap Kapolres Basel, AKBP Satria Rizkiano.


Dia mengimbau orangtua untuk tidak terlena dan memanjakan anaknya kepada kecanggihan seperti media sosial harus ditekankan untuk mengantisipasi hal ini.

"Patroli malam terus kita rutinkan sebagai bentuk upaya mencegahnya. Selain itu, antisipasi curanmor, curat serta pemeriksaan senjata tajam kita lakukan untuk menekan kenakalan remaja yang dapat saling berkaitan," tegasnya. (l3/m4)

NEWS ANALISYS
Wahyu Kurniawan, M.Psi
Asessor Pusat Layanan Autis Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Dosen Luar Biasa FISIP UBB

Prostitusi Remaja Karbitan
BARU-BARU ini, masyarakat Babel cukup dicengangkan dengan adanya pemberitaan bahwa anak-anak SMP (tidak disebutkan) diketahui melakukan prostitusi, belum lagi ditemukan adanya seorang mucikari yang menjual para remaja kepada para lelaki hidung belang. Pelajar yang seharusnya menimba pengetahuan namun beralih profesi menjalani rutinitas yang dinilai salah.

Terdapat berapa penyebab kemunculan terjadinya fenomena ini.

Pertama, pola asuh orangtua yang cenderung permisif yang melakukan pembiaran terhadap rutinitas anak, pemantauan anak yang dilakukan secara intens bukan saja akan menjadikan kedekatan antara orangtua anak melainkan suatu cara kontrol anak. Orangtua dengan kecenderungan memilih cara pola asuh ini tak jarang akan melahirkan generasi yang cukup sulit dengan aturan aturan.

Kedua, labelisasi kata "kekanak-kanakan" tak ayal menjadi suatu hasrat bagi anak yang sewajarnya adalah memang masih anak anak secara usia mentalnya namun tak jarang kata ini adalah suatu proses internalisasi kepercayaan baru bahwa jika tak mau dikatakan anak anak maka bersikaplah seperti orang dewasa lain lakukan.

Hal menarik misalkan kita di sela aktifitas kita menyatakan sesuatu "ah kayak budak kecil bai, ah kayak budak bai lom berani ape ape" nah pada dasarnya ini adalah suatu paksaan/karbitan yang mempengaruhi kepercayaan/kognitif anak bahwa remaja tak mau dinilai menjadi anak anak, sehingga ia harus beresplorasi selayaknya orang dewasa.

Lantas apa yang terjadi, pada dasarnya anak pada usia remaja yang pada tahapan perkembangan moral konvensional (Kohelberg) dipaksakan keluar jalur tracknya. Tak mau dinilai kekanak kanakan, maka banyak yang melakukan hal diluar moralitas yang baik sehingga hal ini bila dilihat dari pandangan Psikologi Kognitif ada 1 keyakinan/kepercayaan yang salah jika anak anak harus selayanya orang dewasa yang bebas berekspolorasi.

Ketiga, konformitas yang salah. Ada kecenderungan kesamaan aktifitas yang ingin dilakukan atas dasar kelompok. Contoh misalkan telah terjadi pelepasan keperawanan jika ingin dianggap menjadi kelompok/gang tertentu sehingga hal inipun menjadi 1 penyebab.

Keempat, Life style dan hedonism, gaya hidup dan gaya hedonis merupakan suatu kontribusi terbesar terjadinya prostitusi. Hal ini dikarenakan remaja untuk mendapatkan sesuatu melakukan gaya pintas antara lain ialah melakukan praktek prostitusi.

Kelima, media sosial yang cederung terbuka bebas memberikan segala informasi. Keenam, pasca trauma psikologi pula menjadi salah satu factor penyebab terjadinya prostituasi, pelajar yang mendapatkan perlakuan tidak wajar/melakukan hub seks, korban perkosaan salah satu penyebab terjadinya pelemahan konsep diri "hidupku kini telah hancur".

Tentu saja selain berbagai faktor di atas masih banyak faktor-faktor lain yang menyebabkan terjadinya prostitusi pada pelajar . Karena itu perlu beberapa upaya penanganan, antara lain peran aktif orangtua, peran sekolah, jangan terlanjur sering memberikan label. Peran aktif Psikolog, BK, Pemerintah, Guru, dan berbagai element lainnya harus dilakukan.
Share This

Contact Us

So you think we’re the right folks for the job? Please get in touch with us, we promise we won't bite!



Designed By Seo Blogger Templates Published.. Blogger Templates