Minggu, 12 Juli 2015

Mengerikan, Lautan Ini Merah Darah Setelah Pembantaian Lumba-lumba



Perairan laut di Kepulauan Faroe, Kerajaan Denmark, kembali menjadi berwarna merah darah ketika ratusan lumba-lumba pilot (Dolphin massacre) dibantai beramai-ramai oleh penduduk setempat.

Foto-foto pembantaian ini tersiar luas di sosial media sejak Mei 2015 dan tidak sedikit komentar yang mengecamnya.

Pembantaian massal ini merupakan tradisisi tahunan mereka.

Setiap tahun penduduk di Eropa bagian utara itu menangkap dan membantai lumba-lumba tersebut yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan nama "Grindadrap."

Seperti terlihat dalam video berjudul "Dolphin Slaughter in Denmark" di jejaring Youtube.com yang diunggah oleh seorang aktivis lingkungan, masyarakat menyiapkan sedemikian rupa alat dan sarana untuk melakukan aksinya. Mereka juga begitu menikmati aksi pembantaian lumba-lumba dan paus tersebut.

Mereka menggunakan tombak dan senjatam tajam lainnya untuk menusuk tubuh ikan-ikan besar itu.

Sungguh malang, lumba-lumba itu tidak mampu banyak melawan, terlebih berada di lautan dangkal, tempat mereka sering terdampar. Warga setempat lalu menyeretnya ke pantai dan membiarkannya mati kehabisa darah.


Inilah yang membuat lautan di kepulauan Faroe menjadi merah darah. Perburuan dan pembantaian massal kali ini tidak untuk dikomersilkan. Ratusan daging lumba-lumba itu mereka potong-potong dan dibagikan merata kepada seluruh warga.

Dihimpun dari Wikipedia, The Cove, Huffington Post, Protect Ocean, wittyfeed, dan Snopes, Pulau Faroe masuk wilayah Denmark. Terletak antara laut Norwegia dan Samudra Atlantik Utara, yaitu Norwegia dan islandia. Namun Faroe adalah daerah otonom, sejak 1948, di mana penangkapan paus dan lumba-lumba tak dilarang dalam hukum daerah mereka.

Dalam ajang Piala Eropa pun, Faroe tampil dengan delegasi sendiri. Tanggung jawab dari Denmark terbatas pada pertahanan militer, kepolisian, hukum, mata uang, dan luar negeri. Selama bertahun- tahun masyarakat di pulau seluas 1.400 km2 dan berpenduduk 51.000 jiwa itu memiliki tradisi unik itu (pembantaian dolphin), yang oleh masyarakat luar acap menimbulkan kecaman.

Sebuah petisi pernah disampaikan oleh para kelompok aktivis lingkungan. Tetapi, tidak mengubah apa pun. Mereka bergeming. Pembantaian tahunan tetap berlangsung hingga kini. Mereka meyakini perburuan ini, bagi kaum laki-laki remaja dan dewasa, untuk menunjukkan kedewasaan mereka dan itu membuat mereka disegani di kalangan penduduk.

The Cove adalah salah satu kelompok pegiat lingkungan yang memprotes aksi pembantaian tersebut. Foto-foto dan video yang mereka unggah akhirnya membuka mata ke dunia luar mengenai aksi sadis itu.

Sebuah laporan menunjukkan, tak kurang dari 1085 ekor lumba-lumba telah dibantai hanya dalam dua tahun terakhir. Namun Megan Stamper dalam artikelnya di Huffingtonpost, menepis aspek dan isu moralitas yang acap disuarakan kelompok pecinta lingkungan.

Mahasiswi PhD dari Cambridge University itu meminta dunia internasional memahami bahwa apa yang dilakukan masyarakat setempat adalah sebagai upaya untuk bertahan dari iklim dan kondisi yang ekstrem di Eropa Utara.


Daging itu sebagai bekas mereka melewati musim dingin. Pulau Faroe sudah lama terisolasi. Lahan sempit.

"Karena itu daging dolphin yang mereka tangkap tidak untuk dikomersilkan, melainkan dibagi rata ke seluruh penduduk sebagai bekal melewati musim dingin," tutur Stamper.(achmad bintoro/berbagai sumber)

Sumber: The Cove, Huffington Post, wittyfeed
Share This

Contact Us

So you think we’re the right folks for the job? Please get in touch with us, we promise we won't bite!



Designed By Seo Blogger Templates Published.. Blogger Templates